MENCARI INSPIRASI DARI TANDU PAK DIRMAN

April 22nd, 2009 by ferdeeansyah

Brand Activation / Aktivasi Merek

March 17th, 2009 by ferdeeansyah

According to some sources, Brand Activation means to activate consumers to take actions to the brands. Aktivasi merek bisa berupa roadshow, entertainment booth, entertainment sampling, interactive website ataupun branded entertainment. Untuk produk yang menyasar segmen remaja biasanya roadshow dilakukan ke sekolah-sekolah. Rexona dan Shampoo Clear adalah contohnya. Satu Event Organizer (EO)yang menonjol dalam penyelenggaraan Brand Activation saat ini adalah Indika Productions.

Menurut majalah Cakram ada 5 kekuatan Brand Activation:

  • Komunikasi langsung
  • Menggugah emosi dan hiburan
  • Meningkatkan penjualan
  • Meningkatkan loyalitas
  • Bisa Diukur

IndieCult: I Dont Smoke, I Dont Drink, and I Dont Do Drugs! I’m Straight Edge!!!

December 21st, 2007 by ferdeeansyah

Di saat musik-musik hardcore gahar gampang banget diasosiasiin sama moshing gila-gilaan dibawah pengaruh zat-zat permabokan, ada sebuah movement dari scene hardcore yang lahir di awal taun 80an, saying no to all those ‘permabokan’ things, dengan alasan yang simpel tapi sangat filosofis. They knew that they didn’t like what was going on around them, the self destruction, the self hatred, the pain and suffering caused by the punk mentality and all the f*ck you and f*ck the world attitude. They choose to say no, dan mereka menyebut diri mereka Straight Edge. So basically, apa itu Straight Edge? It’s a subculture, centered around hardcore music. Para penganut Straight Edge ini gak ngerokok, gak minum alkohol, dan gak narkoba… kadang-kadang ada yang menghindari kafein juga. Basically it’s just a matter of personal choice. Gak ada hubungannya sama doktrin agama atau apa pun. Straight Edge adalah tentang keberanian untuk berpikir positif disaat seluruh dunia berteriak ‘F*ck You!’ to everything around and everybody you know. Keberanian untuk memutuskan sesuatu untuk diri lo sendiri, tanpa harus terpengaruh sama kondisi yang ‘dikondisikan’ di luar sana, dan yang distereotipkan orang-orang. XXX dan apakah itu? Sama sekali gak ada hubungannya sama porno-pornoan! Tanda ‘X’ yang biasanya ditemuin di punggung tangan para Straight Edgers ini adalah ciri identitas mereka. Biasanya sih para Straight Edgers bikin tato dengan simbol ‘X’ atau ‘XXX’ di tubuh mereka (yaah entah itu tato beneran atau mungkin ada juga yang bikinnya cuma pake spidol doang). Nah, asal dari tanda ‘X’ ini sendiri cukup unik, awalnya justru karena di akhir taun 70an dan awal-awal 80an banyak band-band punk yang gak dibolehin main di club-club. Makanya, supaya bisa main, mereka naro tanda ‘X’ di tangan mereka untuk nandain kalo mereka gak minum sekaligus nunjukin kalo mereka adalah band Straight Edge! Hardcore emang rootnya? Taun 1981, Minor Threat, sebuah band hardcore punk yang dimotorin sama Ian MacKaye, nulis lagu berjudul ‘Straight Edge’ yang terinspirasi sama anak-anak underground scene di kotanya (Washington DC) yang make segala macem narkoba, alkohol dan ngorbanin paru-paru mereka buat perusahaan rokok. Lagu itu kemudian malah jadi anthem buat Straight Edgers dan jadi inspirasi banyak band Straight Edge di tahun 80an, kayak SS Decontrol Uniform Choice, DYS, sampe Youth of Today yang bikin Straight Edge bukan sekedar gerakan ‘personal choice’ aja, but a brave movement much more than words, a force to change the world in to a more positive way! So, Yes, hardcore emang rootnya! Straight Edge adalah punk dan hardcore itu sendiri! Filosofi gerakan ‘new rebel’ Straight Edge ini emang jadi banyak inspirasi orang di seluruh dunia! Sampe-sampe mereka yang di luar scene hardcore pun mengaku sebagai Straight Edgers karena mereka emang ‘bersih’ dari zat-zat adiktif. Hal ini pun dibantah, “Straight Edge tanpa hardcore itu bukan definisi Straight Edge yang sesungguhnya! Karena Straight Edge sesungguhnya itu berasal dan hidup di dalam tubuh punk dan hardcore, bukan cuma karena ‘hidup bersih’ aja!” Banyak Straight Edgers yang bilang, being a Straight Edgers justru bikin mereka bisa ngerasain ‘nafas’ sebenernya dari punk hardcore itu sendiri. Mendengarkan musik yang ngebuat darah lo mendidih truly with your heart, dalam keadaan ‘sadar’ and found out the true meaning out of it! Ah, sudahlah..biarkanlah mereka berdebat…Yang penting kita tau apa yang kita percayain, dan gak ngerasa cupu karena cuma nyeruput teh dalem botol atau susu cokelat di tengah crowd yang lagi moshing gila-gilaan.

TEHNIK DASAR MOTOR VESPA

August 27th, 2007 by ferdeeansyah

Secara fisik, Skuter adalah jenis kendaraan bermotor roda dua (2)  dimana pengendara dimanjakan dengan kontruksi kendaraan yang unik dan nyaman juga keamanannya dalam mengendarai. Menurut Sejarah, Skuter dalam bahasa Italy adalah " Tawon" hal ini terobsesi dari bentuk atau skuter yang menyerupai Tawon. Skuter yang terlahir dari negara Italy ini di produksi oleh Piaggio ini bermerkkan VESPA

Keberadaan Vespa di Indonesia ternyata bisa menyatukan ratusan orang dan membuat mereka bersaudara atau lebih kerennya di sebut BROTHERHOOD. Berawal dari saling bertukar informasi diantara penggemar- penggemar vespa, hubungan ini kian erat dan akhirnya terjalin persaudaraan Yang melahirkan Club atau Komunitas yang tidak menonjolkan ego individu, tetapi hal ini lebih untuk membentuk persaudaraan dalam satu Komunitas guna mempererat tali persaudaraan antara sesama penggemar vespa.

Bertolak ukur dari hal di atas tiada maksud dari saya untuk menyombongkan diri, maksud dan tujuan saya tidak lain berbagi pengalaman dan bertukar pikiran kepada rekan-rekan sekalian. Adapun kelebihan dan kekurangan dari prologh ini Saya pribadi mohon dikoreksi, Karna pada dasarnya tidak ada manusia di dunia ini yang sempurna.

PRINSIP DASAR KINERJA MESIN VESPA

Prisip dasar kinerja dari pada mesin vespa ini berbasis dua tak atau dua langkah, langkah pertama adalah pembilasan serta percampurannya antara bahan bakar dan udara yang sebelumnya sudah di atur dari karburator, lalu langkah kedua proses penekanan bahan bakar keruang bakar sehingga terjadilah ledakan dari percikan api busi dan bahan bakar yang berakibat adanya dorongan seher yang memutar poros engkol dan kopling gir transmisi. Di bawah ini saya akan menjelaskan perangkat mesin vespa super yang terdiri dari

I. KARBURATOR
Karburator adalah satu komposisi alat yang mengatur suplai bahan bakar ke ruang bakar, ini sebuah alat yang berkerja secara kinetik tanpa alat elektronik sipengendara hanya mengatur suplai udara melalui tuas gas yan ada distang kemudi lalu perangkat lainnya dari karburator menyesuaikan dengan sendirinya.

II. PENGAPIAN
Yang disebut Proses pengapian adalah terjadinya satu percikan api busi sebagai penyulut bahan bakar yang telah tercampur dan terbilas oleh poros engkol atau krukas yang ada dalam ruang bakar guna terjadinya ledakan yang menghasilkan dorongan seher. Api yang ada di busi daihasilkan dari SPUL PLATINA yang ada dalam medan magnet, setrum dari spul di stabilkan KONDENSATOR berukuran 2 farad lalu di sinyalkan atau sistem pemulsaran oleh PLATINA setrum yang melalui proses di atas di perkuat atau perbesar oleh KOIL, proses ini berdampak percikan api di BUSI berkekuatan lebih dari 4000 voltase dengan titik ampere lemah

III. RUANG BAKAR
Ruang bakar adalah satu ruang yang ada di dalam mesin vespa untuk menghasilkan tenaga berkapasitas 150 CC, di sini terjadi proses MIXTURISASI atau penyampuran antara bahan bakar berjenis bensin dengan udara KRUKAS atau poros engkol stelah bahan bakartercampur di transperkan oleh seher yang nya tlah terdorong oleh proses sebelumnya melelui rongga ransfering yang ada pada BLOK SILINDER, lalu bahan bakar mengalami penekannan ke ruang vakum yang ada pada HEAD SILINDER di sini lah terjadi ledakan hasil dari tekanan dan percikan api busi, sisa bahan bakar yang berjenis korbon dioksida dibuang ke udara lepas melalui lubang buang mengarah ke KNALPOT yang berfungsi menmanfaatkan gas buang sebagai kompresi balik untuk menyempurnakan proses selanjutnya, dan juga knalpot ini berfungsi sebagai peredam suara ledakan,

IV. ROTASI ATAU PUTARAN MESIN
Tiga proses di atas menghasilkan rotasi atau perputaran mesin dan gir-gir yang ada di girbok di melalui KOPLING atau cluth yang berpungsi sebagai otomatis penetral putaran gir sesui dengan keinginan pengendara dalam gir bok terdiri dari GEAR PRIMER atau lebih di kenal dengan gigi borobudur rotasi dari gigi borobudur ini berhubungan langsung dengan GEAR SEKUNDER atau lebih dikenal sebagai gigi seri. Pengaturan transmisi dari kecepatan gigi 1 ke 4 doleh CRASH GEAR atau gigi silang pengaturan ini langsung di hubung kan ke kendali atau stang motor, keunikan mesin ini dalam mantransferkan tenaga tidak menggunakan sistem rantai. Dalam perawatan lebih murah dan mudah yang terpenting adalah ketelitian dan ka apikan kit menggunakan mesin ini.

MASALAH YANG SERING TERJADI SERTA PENYELESAIAN NYA

i. Karburator sering kotor atau spuyer tersendat Dalam masalah ini berdampak langsung dengan laju motor, motor dalam melaju tersendat- sendat atau motor malah sulit untuk hidup terkadang
pula busi sering mati terlihat dari ujung busi isolatornya berwarna hitam kelang yang mengakiobatkan hilang nya percikan api di busi Penyelesaiannya:

1. Bersihkan tangki bahan bakar dari kotoran dan karat
2. Periksa selang bensin dari kerak bahan bakar
3. Bersihkan karburator menggunakan kompresor angin perikasa kembali lubang- lubang spuyer jangan sampai ada kotoran yang tertinggal, ketelitian di tuntut dalam hal ini
4. Periksa ukuran lobang spuyer sudah pas belum jangan sampai kebesaran atau kekecilan. Bila kebesaran motor akan boros bahan bakar dan juga busi sering mati. Ukuran ubang spuyer berpatokan pada ukuran standar pabrik
5. Setingan atau penyetelan jarum ideal harus pas menurut pengalaman saya caranya denmgan menyetel stasioner karbu pada stelan tertinggi, lalu putar jarum ideal menggunakan obeng kekanan stelah berhenti putaran jarum kendorkan kembali ke kiri perlahan-lahan sampai terdengar suara mesin di putaran ter tinggi,

ii. PENGAPIAN
Permasalahan dalam pengpian juga akan berdampak langsung pada laju motor atau motor tidak bisa hidup, susah starter motor biasanya kendala pengapian berada pada stelan platina yang tidak benar, bisa juga salah satu perangkat pengapian sperti Busi, Koil, Platina, Kondensor, Spul pengapian ada yang sudah tidak layak pakai atau mati. penyelasaiannya:
Langkah pertama periksa warna ujung busi, bila berwarna hitam kelang busi tidak akan memercikan api solusinya stel ulang ukuran spuyer pilot jet dam main jet, beila warna ujung busi merah bata maka pariksa ke bagian yang pengapian yang lainnya. Koil yang layak pakai apabila kita konsletkan kabel busi dengan jarak ke massa mesin kira kira 8 mm masih terjadi loncatan api berwarna biru, bila tida berwarana biru di sini percikan atau laoncatan api berwarna merah ini berarti stelan platina tidak benar atau si koilnya yang memang sudah lemah, loncatan api dari koil dipengaruhi langsung oleh stelan platina, Penyetelan platina yang benar adalah berjarak kerenggangan antara konektor minus dan konektor plus nya kira-kira 0,5mm. dengan menggunakan obeng min, perlu di ingat penyetelannya jangan di ketok karna hal akan mepersingkat umur pakai platina karna entara konektor tidak lurus atau bengkok. Loncatan yang terjadi pada platina juga
berkaitan dengan kondisi kondensator Pemeriksaan kondensator amat lah mudah apa bila terjadi lancatan api di platina ini di karenakan kondensator anda sudah tidak layak pakai, ganti kondensor anda atau ada cara lain yaitu cangkok kondensor dengan kondensor lainnya atau sistem kondensatornya di double dengan ukuran kapasitas kondensor yang sama 2 farad, Yang terakhir adalah cek spul pengapian anda masih layak pakai atau harus di gani degngan yang baru, tanda spul pengapian rusak, biasanya kumparan spul lecet, gulungan spul kendor, spul putus.
Apabila semuanya stabil maka anda wajib memeriksa nap puur atau ketepatan pengapian tapi sebelumnya lihat dulu kondisi spi magnet patah atau tidak juga lihat kondisi rotor masih bagus atau sudah tidak, ukuran nap puur adalah 21 drajat sebelum titik mati poros atau kondisi pala seher di atas.

iii. Motor macet tidak bisa starter Ini adalah suatu trable mesin yang lebih fatal biasanya hal ini terjadi di kerenakan lakher atau BEARING ada yang rusak, stang sekher atau CONECTING ROOD rusak, ring sekher patah, sekher atau PISTON tidak layak pakai, perangkat di gear bok ada yang patah, PER GIGI PRIMER rontok, PLAT KOPLING yang sudah tidak layak pakai. GIGI STATER ompong atau rontok. Proses penyelesainnya harus turun mesin dan kita harus bongkar semua perangkat mesin agar lebih mudah pengecekan nya. Apabila dalam pengecekan perangkat ternyata ada yang rusak lebih baiknya kita ganti dengan yang baru, untuk menjaga hal-hal yang tidak di inginkan yang bisa saja nanti terjadi di dalam kita mengoprasikan kendaraan
kita di jalan.

iv. Motor tidak nyaman di kendarai atau goyang Dalam kondisi ini diluar dari pada mesin kecuali perangkat penunjang dan stabizer getaran atau karet mesin, masalah ini menyangkut kenyamannan kita dalam berkandara karna semua ini akan berdampak langsung dalam SAFETY REEDING keselamatan kita terancam bila hal ini di biarkan. Adapun panenggulangnganya sbb:
cek kondisi kelayakan ban dan pelek, bila ban botak harus ganti kondisi pelek pun harus stabil jangan ada speleng atau goyang Cek kondisi as ayun masih layak pakai atau tidak, biasanya dalam kondisi ini pala babi depan akan goyang apa bilia as ayun rusak, semua itu berdampak langsung pada sistem kendali kendaraan anda, Cek lassan bodi pada titik tumpu seperti, DEK MOTOR, TULANG BUAYA, LUBANG AS MESIN, TUMPUAN SOK BLAKANG, DLL. Bila terjadi keropokan pada bodi jangan biarkan hal itu berlarut karna akan berakibat kerusakan bodi yang lebih fatal bahkan pernah terjadi notaor tiba tiba patah. Cek kondisi STABIZER GETARAN atau karet-karet mesin dan shokbreker juga MOUNTING sok blakang, bila terlihat sudah usang atau rusak harus cepat-cepat di ganti. Cek SOKBREAKER, apa bila sok breker sudah lemah baik pernya atau sok wajib untuk kita ganti, jangan lupa kondisi mur roda baik depan maupun belakang dalam kondisi kencang dan terkunci paku pengunci. Jangan sekali kali anda pertaruh kan nyawa anda hanya karena malas untuk memperbaikinya.

PENUTUP

Demikian lah prologh ini saya sampaikan kepada anda selaku saudara saya di vespa, ketelitian anda adalah kunci kanyamanaan dan keselamatan dalam mengendarai vespa di jalan, JANGAN PERNAH ANDA MEMPERTARUHKAN NYAWA ANDA DENGAN KENDARAAN YANG TIDAK LAYAK PAKAI. Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan trima kasih. Bravo vespa mania indonesia jaya selalu.

Satpol PP, Militerisme dan Posisi Kelas Kaum Miskin Perkotaan

August 23rd, 2007 by ferdeeansyah

Satpolpp_ngamuk
Satu malam, seperti biasa, motor GL100 tua yang aku
pakai mogok karena kepanasan. Kali itu, si jago mogok berhenti tepat di depan
sebuah warung jamu di ujung jalan Tambak, Manggarai. Dasar, pikirku, tapi
kebetulan - aku bisa minta mampir mendinginkan mesin. Pemilik kios jamu itu
adalah seorang bapak setengah baya, barangkali limapuluhan usianya, seorang
Betawi asli (sekalipun Betawi itu sendiri merupakan peleburan beberapa bangsa)
yang leluhurnya juga lahir dan wafat di daerah itu.




Kami pun bercakap-cakap. Setelah bicara ke

sana

ke mari tentang keluarga beliau, kami
sampai juga ke topik favoritku (pasti dong! :D). Kami mulai bicara tentang
Pilkada, satu topik yang menarik sebenarnya kalau mau didiskusikan lebih
lanjut. Kawan-kawan yang berdebat soal Pilkada seharusnya turun mencari sample
semacam ini, mengadakan wawancara informal secara tersebar untuk meraba
langsung pandangan masyarakat

Jakarta

,
terutama warga Betawi, terhadap event politik ini. Tapi, sudahlah, bukan itu
yang ingin aku bicarakan. Yang lebih menarik bagiku adalah pandangan beliau
tentang banyaknya geng preman yang mengatasnamakan Betawi dan Satpol PP.

Yang paling menarik bagiku dari percakapan itu adalah kegeraman yang
ditunjukkan bapak penjual jamu itu pada kedua hal yang disebut di atas. Bagi
beliau, geng-geng preman itu sama sekali tidak "berwatak Betawi" dan
memalukan bagi warga Betawi asli karena sebagian besar anggota geng itu bukan
orang Betawi. Bagi beliau, entah benar entah tidak, budaya Betawi menjunjung
tinggi kegagahan (ini mengutip kho ping hoo, kelihatannya) dan hanya mau
berkelahi jika membela kebenaran, itupun harus satu lawan satu. Geng-geng
"Betawi" ini tidak lebih dari sekumpulan tukang pukul yang patuh pada
juragan-juragan, bukan jagoan betulan. Barangkali, yang ada dalam pikiran bapak
itu, yang patut disebut "jagoan" itu semacam si Pitung itulah.

Kalau pada geng "Betawi", si bapak menunjukkan kegeraman, pada Satpol
PP ia menunjukkan kesedihan. Ternyata, di masa mudanya, sekitar tahun 1980-an
awal, ia sempat bekerja di bagian Kamtibmas, di Pemda DKI

Jakarta

. Ia bercerita bagaimana dia selalu
membocorkan rencana penggusuran pada para "calon korban". Dibujuknya
para "gepeng" (begitu istilahnya dulu untuk para tunawisma dan
penghuni rumah gubug) untuk membongkar dulu rumah mereka. Nanti, setelah musim
gusuran lewat, mereka bisa membangun kembali tempat mereka. Yang penting,
menurutnya, bahan bangunan selamat, karena kayu dan kardus itu merupakan
harta-benda tak ternilai bagi para penghuni rumah gubug ini. Satpol PP yang
sekarang begitu telengas. Tidak kenal perikemanusiaan. Raja Tega. Padahal,
sebagian besar anggota Satpol PP sekarang ini adalah pemuda-pemuda miskin juga.
Barangkali di antara sanak-keluarga mereka ada yang menjadi pedagang kaki-lima
atau penghuni gubug. Terlebih lagi, status kerja anggota Satpol PP sekarang
adalah kontrak, beda dengan Kamtib di jaman dulu yang berstatus pegawai negeri.
Jika kontrak habis, mau kerja apa para mantan Satpol PP ini? Paling-paling juga
buka lapak. Bagi bapak itu, benar-benar tidak masuk akal bahwa ada orang yang
bersedia melakukan kekejaman macam itu hanya demi makan hari ini. Mungkin bapak
itu tidak bisa mengerti bahwa watak yang biasanya ditunjukkan para kriminal
kelas teri ini bisa-bisanya ditunjukkan juga oleh aparat berseragam.

Militerisme dan Kelas Pekerja

Kita sendiri biasanya beranggapan bahwa militer merupakan alat negara penindas
- bahkan "negara" itu sendiri, dalam pengertian bahwa "Negara
adalah alat yang dipakai kelas berkuasa untuk merepresi kemungkinan munculnya
konflik dan perlawanan kelas-kelas tertindas." Namun, sesungguhnya
hubungan antara Militer dan Kelas Tertindas (dalam hal ini kelas-kelas pekerja)
tidaklah selinear atau sedikotomis yang dibayangkan. Ingatlah hukum dialektika,
bahwa apa yang berlawanan sesungguhnya satu dan saling menyaratkan.

Historyworld.net, satu situs sejarah yang cukup berwibawa, memiliki banyak
artikel yang menerangkan mengenai perkembangan militer menjadi seperti yang
kita lihat saat ini.Dan salah satu kenyataan pahit yang disajikan sejarah pada
kita adalah bahwa tulang punggung setiap ketentaraan yang kuat adalah kelas
pekerja.

Sejak awal terbentuknya ketentaraan, kelas pekerja selalu hadir di garis
terdepan tiap

medan

pertempuran. Merekalah yang gugur dalam jumlah paling besar di setiap
kesempatan benturan antar pasukan. Merekalah yang dikenal sebagai "tentara
jalan kaki" (foot soldier), "umpan peluru" (cannon fodder),
"kuda beban" (grunts), atau istilah-istilah lain yang pada dasarnya
merendahkan derajat mereka yang harus berkorban paling dahulu dan paling besar
dalam tiap pertempuran ini.

Sejak pertama kali masyarakat berkelas menampakkan batang hidungnya di muka
bumi, rakyat pekerja telah dikerahkan untuk membela kepentingan kelas berkuasa.
Memang, sejak masyarakat terbelah menjadi kelas-kelas yang saling bertarung,
ketentaraan tidak lagi merupakan pekerjaan sampingan melainkan pekerjaan
purna-waktu. Tentara purna-waktu (standing army) inilah yang justru menjadi
ciri masyarakat berkelas. Tapi, sekalipun tugas utama tentara ini adalah
menindas rakyatnya sendiri, anggota-anggotanya direkrut dari kalangan kelas
pekerja. Setelah direkrut, mereka ditempatkan dalam pengawasan ketat dan arahan
dari para perwira yang secara eksklusif direkrut dari kalangan kelas berkuasa.

Selain itu, seperti yang terjadi di kerajaan

Mesopotamia

(yang diteruskan oleh Babilonia), kelas pekerja dikerahkan untuk melancarkan
invasi dan penjarahan budak ke desa-desa atau negeri orang. Jika diperlukan,
kelas pekerja akan diperintahkan untuk meninggalkan pekerjaannya dan memanggul
senjata, membela kepentingan kelas berkuasa. Jadi, untuk menambah wilayah
kekuasaan (dan otomatis menambah jumlah kelas pekerja yang dikuasainya), kelas
berkuasa sejak dulu telah menggunakan tenaga kelas pekerja di negerinya
sendiri.

Semakin lama semakin nampak pembelahan antara para "foot soldier"
dengan para perwira ini. Di kerajaan Mesir Kuno, misalnya, para perwira dan
bangsawan maju perang dengan menunggang kereta perang (chariot), sementara
tentara biasa tetap berjalan kaki. Dengan kereta perang, posisi para perwira
ini menjadi lebih aman dan dapat melakukan pembantaian tentara musuh secara
lebih leluasa. Perhatikan bahwa "tentara musuh" yang dibantai ini
adalah yang berasal dari kelas pekerja di negeri "musuh" itu. Jarang
sekali antar perwira ini bertemu dan beradu nyawa.

Pembelahan ini semakin tajam dengan semakin jauhnya perbedaan kemampuan ekonomi
antara kelas berkuasa dan kelas pekerja. Di abad pertengahan, misalnya,
perbedaan antara para ksatria dan para prajurit biasa sangat menyolok, terutama
karena biaya yang perlu dikeluarkan untuk peralatan perang seorang ksatria
tidak akan pernah dapat dibayar seorang prajurit biasa, yang berasal dari kelas
pekerja. Kuda perang dan baju zirah dari baja terlalu mahal untuk dibeli, belum
lagi mengingat biaya perawatannya.

Curangnya, ketika kondisi ini berbalik dengan ditemukannya crossbow (panah yang
dilepaskan dengan menggunakan pegas), halberd (tombak panjang dengan kait dan
kapak kecil di bawah mata tombak) dan senjata api, para perwira ini langsung
mengambil langkah seribu. Kalau dulu mereka berada paling depan, nampak gagah
dan jaya karena terlindung peralatan perangnya, kini mereka lebih suka
"memimpin dari belakang" (lead from behind - satu ungkapan yang absurd).

Sekarang ini justru makin terang-terangan "tentara jalan kaki" ini
dijadikan umpan peluru.

Para

prajurit, yang
barangkali berasal dari keluarga buruh, dipaksa saling tembak dengan sesama
prajurit yang juga berasal dari kelas pekerja. Sementara para perwira berperang
dengan aman di garis belakang.

Kisah tentang Jenderal McArthur bisa menjadi contoh yang luar biasa. Komandan
Pasukan AS di Filipina ini membiarkan belasan ribu prajuritnya dalam keadaan
kelaparan dan kekurangan amunisi di Bataan dan Corregidor, kabur ke

Australia

JAPAN

ATTACKS THE

PHILIPPINES

,
1941- 42" http://www.users.bigpond.com/pacificwar/gatheringstorm/Philippines/Philindex.html)
membeberkan fakta bahwa McArthur bukan saja melalaikan persiapan pertahanan
Filipina, tapi juga sempat-sempatnya membeli saham Lepanto Mining Company yang
harganya jatuh menjelang penyerbuan Jepang. Saham inilah yang membuat McArthur
menjadi milioner seusai perang. Di samping itu, McArthur masih sempat memaksa
Presiden Filipina waktu itu, Manuel Quezon, untuk memberinya Piagam Penghargaan
sebagai Pahlawan Filipina, penghargaan yang disertai uang hadiah sebesar USD
500ribu (bernilai sekitar USD 5juta sekarang).

Kelas berkuasa tetaplah kelas berkuasa, mereka akan merebut seluruh kemuliaan
ketika pertempuran dimenangkan tapi mereka tidak akan berkedip sedikit juga
ketika mengorbankan prajuritnya untuk mendapat kemenangan itu. Mengapa mereka
harus berkedip? Bukankah kita tahu bahwa para umpan peluru ini diambil dari
kelas pekerja?

ketika Jepang menyerbu Filipina. Sejarah resmi AS membenarkan tindakan McArthur
ini dengan alasan ini adalah perintah Komando Tertinggi dan bahwa McArthur
sebenarnya enggan pergi kalau tidak dipaksa. Sejarah alternatif (seperti yang
dimuat dalam situs "
Ketika Seorang Berkhianat Pada Kelasnya Sendiri

Di lain pihak, banyak anggota kelas pekerja yang melihat karir kemiliteran
sebagai peluang untuk keluar dari kesengsaraan dan himpitan penderitaan hidup
yang selama ini dialaminya. Sekalipun ia tidak menyadarinya, secara naluriah ia
tahu bahwa dengan demikian ia telah menyeberang. Ia telah menjadi pengkhianat
bagi kelasnya sendiri. Dan seorang pengkhianat cenderung akan berusaha membuktikan
dirinya di hadapan majikan barunya secara berlebihan. Ia akan menjadi lebih
kejam dan jahat daripada jika anggota kelas berkuasa itu sendiri yang
menjalankan penindasannya. Beberapa artikel penelitian tentang Psikologi
Kekuasaan (bisa dicari di Google dengan kata kunci "psychology of
power") menunjukkan bahwa orang-orang yang memegang kekuasaan cenderung
bersikap tidak sewajarnya karena ia tahu tidak akan mendapat akibat buruk dari
tindak-tanduknya. Bisa dibayangkan bahwa mereka yang tadinya merayap-rayap di
lumpur kehinaan dan penindasan kini bisa petantang-petenteng berkuasa, tentu
mereka mabuk berat!

Salah satu ciri hegemoni adalah jika anggota-anggota kelas yang dikuasai
beraspirasi atau bercita-cita menjadi bagian dari kelas berkuasa, atau menganggap
apa yang dilakukan kelas berkuasa sebagai teladan mereka. Tidak mengherankan
jika banyak anggota kelas pekerja di

Jogjakarta

(bahkan sampai hari ini) yang bangga dan bahagia ketika diangkat menjadi
pelayan atau abdi dalem keraton. Kita juga mendengar berbagai kisah nina-bobo
yang menggambarkan betapa bahagianya seorang rakyat jelata ketika dinikahi oleh
keluarga raja, atau seorang petani miskin yang menjadi pelayan seorang ksatria
kemudian berkesempatan membuktikan dirinya layak menjadi ksatria. Contoh modern
dari kisah-kisah semacam ini barangkali adalah seorang anak petani dari dusun,
yang mendapat kesempatan berkuliah di

kota

besar lewat jalur PMDK (sekarang masih ada gak sih?), lalu belajar sekeras
mungkin untuk kelak bisa bekerja di sebuah kantor mentereng, kalau bisa
perusahaan luar negeri. Ia sama sekali tidak berpikir bagaimana bisa kembali ke
desa membangun desanya. Aku bertemu banyak sekali contoh seperti ini ketika
kuliah di IPB.

Dari tinjauan empirik (dari pengamatan saja; ada yang bisa kasih tinjauan
akademiknya?), ada beberapa posisi yang rentan menjerumuskan orang dalam
pengkhianatan terhadap kepentingan kelasnya sendiri:

 


Ketika seseorang berada dalam posisi kepemimpinan yang tidak
demokratis atas komunitas. Kepemimpinan yang tidak didasarkan pada struktur
demokratik bisa terjadi dalam kumpulan formal ataupun informal. Hal ini tidak
harus didahului dengan satu niat buruk, misalnya ambisi pribadi ingin kaya,
dsb. Bisa jadi, awalnya adalah niat baik untuk membangun komunitas. Tapi,
karena struktur organisasinya tidak menjamin adanya regenerasi yang
terus-menerus, komunitas pelan-pelan menjadi tergantung. Si pemimpin tersebut
makin lama makin jago (karena terus mengasah kemampuannya), jarak antara
tingkat kemampuan pribadinya dengan tingkat kemampuan orang lain dalam
komunitas itu menjadi jauh sekali, bahkan mungkin tidak terkejar lagi. Si
pemimpin ini rentan berkhianat karena para penguasa borjuasi tahu betul bahwa
ia adalah sasaran tunggal. Penguasa borjuasi dapat memilih untuk mengguyur si
pemimpin ini dengan harta melimpah (atau apa saja yang diinginkannya) atau
melenyapkannya sekalian (jika sogokan tidak mempan). Begitu si pemimpin terbeli
(atau terbunuh, mana saja yang datang duluan) organisasi pun akan terjinakkan.


Ketika seseorang tidak memiliki pijakan kelas. Ketika
seorang buruh di-PHK tanpa kejelasan masa depan, ketika seorang petani
kehilangan tanah tanpa tahu ke mana harus meneruskan hidup, ketika seorang
pelajar lulus tanpa kemungkinan melanjutkan pendidikan atau masuk dunia kerja,
mereka terlempar ke dalam sebuah limbo - keadaan tanpa pijakan, tanpa
kepastian. Dan, lembaga yang paling menyediakan kepastian - baik dari segi
penghasilan, kekuasaan, disiplin dan komando - adalah lembaga yang dekat dengan
militerisme. Tidak begitu mengherankan, (hampir) tidak akan ada anggota kelas
pekerja yang dengan sukarela bergabung dalam organisasi preman, atau SatpolPP
sekalipun, jika mereka bukan pengangguran.


Pengangguran dan Masalah Kemiskinan Perkotaan

Kedua kondisi yang kupaparkan di atas, sialnya, hadir bersamaan di tengah
komunitas-komunitas miskin perkotaan. Komunitas miskin perkotaan ini terbentuk
sebagai akibat dari pembangunan kapitalisme yang menggunakan pola akumulasi
modal primitif (primitive accumulation of capital). Pola ini diterapkan pada
masa-masa awal pembangunan kapitalisme di Eropa, dan kini diterapkan kembali
untuk pembangunan kapitalisme di negeri-negeri kapitalis terbelakang yang
menjadi sasaran penghisapan negeri imperialis di Dunia Pertama. Pola akumulasi
primitif ini pada dasarnya berusaha menceraikan para produsen dari alat kerja
dan hasil produksinya. Dengan kata lain, penghancuran pola produksi sisa
peradaban Berburu-Mengumpul (misalnya nelayan tradisional) dan Feudal (misalnya
pertanian). Tujuan utama dari pola akumulasi primitif ini adalah penciptaan
lapisan masyarakat yang tidak lagi memiliki alat untuk bertahan hidup dan harus
bergantung pada kapitalisme agar bisa bertahan. Di mana-mana, di seluruh negeri
yang baru belakangan diserap ke dalam kapitalisme (yang biasa disebut Dunia
Ketiga) kita lihat terjadinya akumulasi primitif ini.

Kita melihat brutalitas kapitalisme primitif ini di depan mata kita, dalam
sejarah kontemporer

Indonesia

.
Brutalisme ini terjadi bukan saja dalam perampasan tanah di pedesaan, tapi juga
dalam pengabaian pedesaan dalam pembangunan fasilitas penunjang kehidupan.
Semua "pembangunan" yang dilakukan Orde Baru, dilakukan di perkotaan.

Para

petani yang telah kehilangan tanah
terpaksa pindah ke kota-kota besar karena tidak ada sarana penunjang kehidupan
di pedesaan. Sekalipun tidak langsung, inipun salah satu bentuk kekerasan yang
luar biasa, yang memaksa orang untuk pergi atau mati kelaparan.

Tapi, mereka tidak punya bekal yang cukup untuk mencari penghidupan di
perkotaan. Sama seperti yang dialami petani-petani Inggris di abad ke-16, para
petani

Indonesia

yang kehilangan tanah ini juga terdampar di kota-kota besar tanpa pegangan.
Tapi, petani Inggris di abad ke-16 berhadapan dengan kapitalisme yang baru
bangkit, yang baru saja merealisasikan potensinya sebagai sebuah sistem
ekonomi-politik. Sekalipun dengan brutal para petani ini diubah menjadi
proletariat, industri yang tersedia cukup banyak untuk menampung cadangan
tenaga kerja baru ini. Sebaliknya, para pendatang baru di perkotaan

Indonesia

masa
kini tidak dapat menemukan pekerjaan yang memadai jumlahnya. Jangankan dalam
tingkat upah, pertumbuhan jumlah lowongan kerja saja tidak berimbang dengan
jumlah pendatang baru yang tiba tiap tahu di kota-kota besar di seluruh

Indonesia

.

Karena itu, pola akumulasi primitif ini menghasilkan banyak sekali
kantung-kantung kemiskinan yang kumuh di perkotaan. Di kantung-kantung
kemiskinan ini, warga berjuang dari hari ke hari untuk mendapatkan pekerjaan
apapun yang bisa membantu mereka melewatkan hari itu dan, jika mereka
beruntung, keesokan harinya. Keterdesakan untuk bertahan hidup ini membuat
warga di kampung-kampung kumuh ini mengerjakan apa saja, hal-hal yang tidak
terbayangkan, untuk dijadikan uang. Dan sempitnya peluang yang tersedia
menyebabkan pertarungan memperebutkan peluang ini menjadi sangat keras.

Struktur kepemimpinan di tengah masyarakat miskin perkotaan jarang sekali
bersifat demokratis. Biasanya, hanya orang-orang "kuat" yang mampu
memimpin komunitas yang hanya diikat oleh satu hal: sama-sama menunggu
kesempatan untuk "sukses" - apapun makna "sukses" bagi
mereka. Mereka telah dipaksa untuk menjadi proletariat karena telah dilucuti
dari sarana produksi milik mereka. Namun mereka tidak bisa masuk ke dalam dunia
proletariat karena kurangnya lapangan pekerjaan. Suasana di mana mereka sudah
dipaksa berhadapan dengan taring telanjang kapitalisme, sementara mereka tidak
dapat menikmati solidaritas yang menjadi ciri proletariat, menyebabkan mereka
(dalam keadaan tidak terorganisir) sangat mudah terjatuh ke arah pemikiran
vigilantisme - hukum ditentukan oleh mereka yang kuat. Pemikiran ini hanya
berjarak sejengkal saja dari militerisme skala penuh.

Dan, sialnya, kelompok-kelompok vigilantes (premanisme terorganisir) dan
paramiliter (orang sipil yang dipersenjatai dan bertingkah laku seperti
tentara) di

Indonesia

biasanya melakukan perekrutan dengan preteks (dalih) membagi lapak dan lapangan
pekerjaan. (Ini baru pengamatan sepintas dan dari beberapa wawancara informal.
Butuh disangkal lewat penelitian ilmiah.) Banyak orang juga ikut menjadi
anggota organisasi vigilantes dan paramiliter karena tertarik dengan janji
disalurkan bekerja. Dengan cara ini, organisasi preman menjadi agen yang kuat
untuk menegakkan sistem ketenagakerjaan ala Neoliberal, yakni Labor Market
Flexibility.

SatpolPP tidaklah terlalu berbeda. Banyak artikel yang mengutip wawancara
dengan para anggota Satpol PP (yang bertanggungjawab dalam kekerasan yang
terjadi di berbagai penggusuran) menyatakan bahwa sebenarnya hati nurani mereka
menjerit. Tapi, apa daya, begitu kata mereka, perintah atasan dan mereka juga
butuh makan.

Pernyataan seperti inilah yang menjadi ciri dari Lumpenproletarisme. Lumpenproletariat
adalah proletariat sampah, yang hidup dari memangsa sesama proletariat. Kata lumpen
berasal dari bahasa Jerman, der Lumpen, yang artinya lap dapur. Ia bukan
kriminal biasa. Ia adalah drakula, dari jenis yang terburuk. Dan
drakula-drakula ini adalah bahan mentah yang siap dibentuk menjadi senjata
pemukul yang ampuh, pelayan bagi kelas berkuasa.

Implikasinya Bagi Kita

Pengorganisiran terhadap kelompok yang secara pukul-rata disebut "kaum
miskin perkotaan" biasanya disandarkan pada perebutan hak sebagai
warganegara - khususnya hak mendapat pelayanan publik. Ini tentu bukan satu hal
yang keliru, karena mereka justru terdampar di perkotaan karena kehilangan hak
mereka atas alat-alat produksi. Lagipula, kondisi mereka yang mengais hidup
dari hari ke hari ini akan sangat terbantu dengan perjuangan atas hak sebagai
warganegara. Perjuangan atas hak warganegara ini dapat menjadi satu alat
pengorganisiran yang ampuh, sebagaimana telah ditunjukkan oleh pengalaman SRMK
(Serikat Rakyat Miskin Kota) yang mengorganisir di wilayah Jakarta Barat.

Namun demikian, analisis kelas kita menunjukkan bahwa perjuangan atas hak
warganegara ini bukanlah alat pukul utama yang bisa kita bangun dari komunitas
miskin perkotaan. Kita harus melihat mereka sebagaimana mereka adanya: pasukan
cadangan proletariat (reserve army of proleariat).

Jika komunitas miskin perkotaan dipandang secara demikian, maka perjuangan
kelas pekerja tidak boleh ditujukan secara eksklusif untuk pembelaan terhadap
buruh yang masih bekerja di pabrik, melainkan juga terhadap komunitas ini. Serikat-serikat
buruh harus merangkul organisasi-organisasi komunitas, bersama-sama
memperjuangkan perbaikan nasib di komunitas sekaligus penciptaan lapangan kerja
baru. Lebih baik lagi kalau bukan sekedar merangkul, tapi memang dengan sengaja
serikat buruh mengirim organisernya untuk membantu pengorganisiran di
komunitas. Organisasi-organisasi kelas kapitalis mengirim organisernya ke sini,
mengapa serikat-serikat buruh tidak? Bukankah kelas pekerja ingin mengambil
kekuasaan dari tangan kelas kapitalis? Tanpa bertarung di semua lini, termasuk
memperebutkan kepemimpinan di tengah komunitas miskin perkotaan, mimpi kelas
pekerja untuk berkuasa akan sulit tercapai.

Persatuan organik antara serikat buruh dengan serikat komunitas akan berguna
juga berkenaan dengan persoalan organisasi-organisasi paramiliter, termasuk
SatpolPP. Organisasi paramiliter ini menarik anggotanya dari kalangan miskin
perkotaan sekaligus menggunakan orang-orang miskin ini di barisan terdepan
ketika memukul komunitas miskin lainnya. Dengan masuknya pengorganisiran kelas
ke tengah komunitas miskin perkotaan, kita akan mengajarkan dan melatih
komunitas itu untuk bersolidaritas. Solidaritas akan memudahkan kita
melancarkan perlawanan terhadap organisasi paramiliter, yang terkadang menuntut
digunakannya metode-metode yang keras lawan keras. Solidaritas juga akan
melunakkan, minimal mematahkan kohesi di tengah organisasi paramiliter ini,
melumpuhkan kemampuannya bergerak sebagai satu unit yang utuh dan tak kenal
belas-kasihan. Kalau kita beruntung, dan cukup tabah berjuang, ada kemungkinan
kita bisa mendorong terjadinya pembelotan. Jika para anggota SatpolPP atau
organisasi paramiliter lain bisa dibangkitkan solidaritasnya, ada kemungkinan
mereka akan membangkang pada perintah atasan mereka dan balik berpihak justru
pada komunitas yang tadinya menjadi sasaran penindasan mereka.

Mas Marco Kartodikromo: Dengan Sastra, Ia Mengasah Pena

August 22nd, 2007 by ferdeeansyah

Student_hijo

Soepaja djalannja SAMA RATA, 

Jang berdjalan poen SAMA me RASA, 

Enak dan senang bersama-sama, 

Ja’toe: "Sama rasa, sama rata." 

 

(Sinar Djawa 10 April 1918)  

 

Awal

abad 20 tahun, gerbang dibukanya abad pencerahan. Jaman pergerakan, ditandai

dengan hadirnya koran, munculnya puluhan jurnalis muda. Muncul  pula

sebuah pola baru dalam gerakan, organisasi. Dunia penerbitan –yang rata-rata

dimiliki oleh orang Tionghoa– pun mencapai titik terang, ikut pula berperan

mendorong proses kemajuan intelektual kaum bumi putra. Kaum jurnalis menjelma

sekaligus sebagai aktivis-aktivis dan pimpinan pergerakan.

  Pada masanya, Marco dikenal sebagai salah seorang jurnalis tangguh. Ciri

khas yang paling kentara ialah:  ia

selalu menulis apa yang dilihat dan

dirasa secara lugas. Tanpa ditutupi-tutupi. Tidak juga serba dipoles-poles,

hingga akhirnya melenyap esensinya. Doenia Bergerak adalah surat kabar

yang dibesarkan dan membesarkannya. Marco menjadikannya sebagai alat untuk

menyampaikan gagasan akan sebuah perjuangan yang modern, dengan motto: “Brani

karena benar takut karena salah”. Pentingnya menjaga pergerakan agar tidak

melenceng dari cita-citanya, adalah salah satu sandaran dari medianya. Marco

berani menentang penguasa kolonial dan orang-orang pergerakan yang dianggap

berkolusi dengan rejim kolonial dengan mengkritisi kondisi sosial politik yang

ada. Alhasil, tak kurang empat kali ia keluar masuk penjara.Semuanya lantaran

tulisan-tulisanya yang memerahkan kuping penguasa kolonial 

Kali

pertama ia dipenjara di Semarang, kemudian sempat diisolasi di Belanda, sempat

pula dibuang ke Boven Digul. Bebas dari penjara ia bergabung dengan Semaun, dan

menjadi komisaris Serikat Islam Semarang dan redaktur Sinar Hindia. Selain itu

ia juga menyunting Sinar Hindia, Soero

Satomo. Bintangnya mulai berpijar terang tatkala ia berada di SI. Semarang

yang  menjadi pusat SI yang baru. Dalam kongres CSI ia terpilih

menjadi komisaris CSI, khususnya menjadi kepala penerbitan. 

Dikenal

sebagai pribadi militan, Mas Marco

Kartodikromo, lahir di Cepu, sekitar tahun 1890. Sebuah daerah tandus di

Jawa Tengah, tepatnya di dekat pantai utara Pulau Jawa yang sarat bukit-bukit

kapur dan dikelilingi hutan jati. Bumi gersang ini ternyata cukup menyimpan

magma. Sebarisan nama yang mengharumkan dunia pergerakan lahir di sini, Tirto Adhi Soeryo, pelopor pers nasional, juga

Pramudya Ananta Toer. Dr. Tjipto Mangunkusumo pun pertama kali merintis sekolah

khusus untuk bangsa pribumi, di daerah ini. Serta, dari sini pula tak bisa kita

lupakan nama harum seorang perempuan pemberani, Kartini.  

Tak

seperti kebanyakan tokoh yang dialiri darah priyayi, Marco sebuah

perkecualian.Bapaknya hanya seorang priyayi rendahan, yang sehari-harinya juga

mencari nafkah lewat bertani. Jika kaum pergerakan lain sempat menikmati

pendidikan di sekolah-sekolah kelas satu, atau rata-rata menamatkan STOVIA,

tokoh kita ini hanya sempat mengenyam sekolah bumi putra angka dua di

Bojonegoro.  

‘Kekalahan’

yang merupakan buah dari kelas sosialnya tersebut lah yang membuat Marco,

seperti disebut Siraishi dalam Zaman

Bergerak, “tergila-gila pada

simbol–simbol modernitas dan tampil di depan umum dalam gaya Eropa seperti

sinyo, sementara Cokro dan Soewardi lebih sering memakai pakaian Jawa“.

Kekalahan, dan kekerasan hidup sebagai pribumi miskin ini pula yang justru

mengasah kepekaan batin dan kepalanya.Jika kawan-kawannya mendapat pengetahuan

dan kesadaran berdemokrasi dan buku-buku, Marko menjumputnya dari kehidupan

sehari-hari. Ia jengah menyaksikan kemunduran bangsanya. Ia gusar dengan

penghisapan yang saban hari melata di depan matanya. Itulah yang membedakan, dan

membuatnya menonjol dibanding kawan-kawannya. Marco, bagian dari kaum muda yang

diciptakan dalam sistem penghisapan kolonial, dan ia bersikeras mendobraknya.

Baginya hierarki gelar, pangkat dan medali kehormatan, bukanlah lahir turun

temurun, bukanlah hadir akibat aliran darah, melainkan diperoleh melalui sebuah

kerja keras, dan keberanian bersikap tegas. 

   

Menjadi

Jurnalis, Menjadi Suluh Penerang  

Pada

awalnya, Marco bekerja sebagai juru tulis rendah di Dinas Kehutanan di tahun

1905. Tak lama, ia pindah ke Semarang dan tetap menjadi juru tulis di kantor

pemerintah. Di sana ia punya kesempatan untuk belajar bahasa Belanda dari

seorang Belanda yang menjadi guru privatnya.  

Tahun

1911, terbuka satu babak baru dalam hidup Marco. Bahasa Belanda menghantarkannya

pada cakrawala dunia yang serba baru;  pengetahuan

yang serba baru. Tak cukup lagi sekedar menjadi seorang juru ketik, ia memilih

meninggalkan Semarang dan berangkat ke Bandung. Ia sangat bercita-cita menjadi

jurnalis terkemuka. Di Bandung ia bergabung dengan Medan

Prijaji pimpinan Tirto Adhi Soeryo.Saat itu, memang Medan

Prijaji tengah mencapai puncak kegemilangannya. Pada Tirto, Sang Pemula

dalam segala makna itu lah, ia berguru. Tak hanya soal dunia tulis menulis, ia

juga berguru soal kebajikan, dan –terutama—tentang organisasi modern.   

Medan Prijaji benar-benar

mengasah talenta menulisnya. Oleh karenanya, bangkrutnya media pribumi dengan

oplah terbesar tersebut, yang diikuti pula dengan dibuangnya Tirto ke Maluku,

sempat membuat semangatnya runtuh. Terlebih, ketika akhirnya Sang Pemula wafat.

Dalam korannya Marco melukiskan kehilangannya yang sangat dahsyat. Marco belum

putus asa. Ia kembali ke Surakarta dan mengikuti jejak guru yang dikaguminya itu

dengan menerbitkan suratkabar sendiri dalam bahasa Melayu. Nyaris semua yang

diserapnya dari Tirto dipraktikkan di sini, termasuk, berorganisasi.  

Pada

usia 22, barulah benar-benar ia terjun ke dunia pergerakan. Ia sadar, hanya

organisasi lah alat mencapai perubahan dan tatanan dunia baru. Sebuah

pengetahuan dan kesadaran yang tidak terlambat untuk diraihnya. Surakarta,

adalah tempatnya berkiprah dengan energi dan vitalitas sepenuh-penuhnya. Dalam

rangka mencapai tujuan ini,  ia

mendirikan Inlandshe Journalistenbond

(IJB) di Surakarta pada pertengahan 1914 dengan Doenia

Bergerak sebagai surat

kabarnya.  

Kaum

pergerakan menyambut dengan luapan gembira hadirnya terbitan ini. Berakhirlah

masa kebekuan pers bumiputera akibat tekanan pemerintah kolonial. Dengan itu

pula, Marco berani mendobrak tekanan pemerintah kolonial, tanpa sedikitpun

gentar.  

Tahun

1913, Serikat Islam (SI) mencapai

puncak kejayaan.  

Pada

masa itu SI Surakarta adalah perkumpulan orang Jawa yang kuat pengaruhnya di

bawah pimpinan pedagang batik dan aristokrat Kasunanan. Anggotanya mencapai

puluhan ribu orang. Namun ketika jaman berganti, masa gemilang itu  pun

berlalu. Ketika orang-orang sudah terbiasa dengan vergadering

dan membaca surat kabar, eksistensi SI berkurang. Para priyayi beramai-ramai

lari meninggalkan SI Surakarta di tengah keterpurukannya. Yang tersisa hanyalah

para jurnalis yang kemudian beralih, memegang kendali menjadi pemimpin

pergerakan. Dalam situasi tersebut, sosok seperti Marco yang berani, radikal,

lugas menjadi sosok lebih didengarkan rakyat. 

Doenia Bergerak

menjadikan suara Marco makin keras dan lantang. Ia merasa perlu mengambil taktik

demikian, sebab, ia bukanlah kalangan intelektual berdarah priyayi dan

berpendidikan Belanda. Jika Tjokro hanya perlu membuka suara sedikit saja agar

suaranya didengar oleh Belanda, maka Marco harus “berteriak” kencang-kencang

agar suaranya lebih lantang dan didengar.  

Paruh

1915, Doenia Bergerak memasuki masa

gemilang.Pemerintah kolonial mulai represif, makin semena-mena terhadap kaum

bumiputra, terlebih terhadap para kaum aktivisnya. Dalam surat kabarnya itulah,

Marco lantang berseru-seru: “Kita semua

adalah manusia”. Hasilnya bisa diduga, Marco diseret ke pengadilan.

Jatuhlah vonis 7 bulan penjara. Mau apalagi, Marco tak pernah menyesalinya.

Pengadilan adalah panggung politik bagi siapapun yang berkesedaran maju!  

Di

depan pengadilan pula, ia terus saja berseru-seru: 

 “Saya

berani bilang, selama kalian, rakyat Hindia, tidak punya keberanian, kalian akan

terus diinjak-injak dan hanya menjadi seperempat manusia !!!”  

4

kali keluar masuk penjara, ia lewati dengan kepala tegak. Kesulitan demi

kesulitan datang silih berganti. Selalu mampu ia taklukkan. Selalu mampu

tergantikan oleh pengalaman dan pengetahuan baru.Ia menyebutnya sebagai batu

ujian; sebagai sekolahan baru; sebagai tempat untuk melatih agar moral bertambah

kukuh dan liat.Itu sebabnya Soewardi Soerjaningrat

menyebutnya sebagai seorang satria sejati.

Secara khusus dipahatnya kekaguman itu dalam sebuah tulisan di Sarotomo: 

 

 “Memang

membela bangsa itu tidak mudah dan tidak menyenangkan, namun ini kewajiban

kita.Ingatkah, yang berbahagia bukanlah mereka yang menyandang gelar dan

pangkat, bagi saya, kebahagiaan yang paling besar berada dalam pikiran saya.

Saudara telah mengorbankan diri dan semua hukuman sesungguhnya merupakan sebuah

bintang kehirmatan bagi saudara dan itulah lambang kebahagiaan saudara.

Sekarang, di mata saya pangkat saudara sangat tinggi, karena sudah jelas,

kebahagiaan saudara terletak dalam upaya membela bangsa. Janganlah mengira bahwa

tak ada orang lain yang akan meneruskan pekerjaan saudara. Puluhan orang nanti

akan menggantikan saudara. Berani karena benar !(Akira Nagazumi, 1986) 

 

Iklim

politik di Hindia bergolak. Jauh melebihi dari yang pernah dibayangkan Marco.

Perang Dunia I nyaris selesai. Revolusi Rusia meledak, tatanan dunia yang baru

pun muncul. Sementara itu, kehidupan rakyat terus merosot; harga-harga meroket

tinggi; upah terus digencet di bawah telapak kaki. Keresahan pun merunyak di

mana-mana. Eropa meledak dengan Revolusi Rusia pada Maret 1917, diikuti dengan

Revolusi Bolshevik.  

Serikat-serikat

buruh muncul bak jamur di musim hujan. Seperti terilhami oleh revolusi

Bolshevik, pemogokan-pemogokan pabrik meledak hampir saban hari di pulau Jawa.

Sebuah transformasi pergerakan tengah berlangsung, jika pada awalnya Serikat

Islam ditandai dengan vergadering,

kemudian beralih ke pemogokan. Perang Dunia I, menjadi batas waktu yang sangat

penting bukan hanya bagi pergerakan tetapi bagi sejarah Hindia. Perang ini telah

mempengaruhi posisi Hindia dengan negara induk. Cengkeraman terhadap negara

jajahan tak lagi kencang. Radikalitas kaum buruh membuat pemerintah mengawasi

perkembangan kelompok kiri ini.Pertemuan-pertemuan dilarang,

organisasi-organisasi diinteli, pers dan penerbitan pun tak lepas dari teror dan

sensor kolonial. Belasan orang di seret ke penjara dan

dihukum mati di depan umum, sementara sekitar 13.000 orang dibuang ke Boven

Digoel. 

Regenerasi

gerakan pun terjadilah. Semaun, seorang pemuda belia berumur 18 tahun, berasal

dari kelas buruh, maju ke depan dan memimpin pemogokan di Jawa. Dia adalah

aktivis ISDV dan kemudian menjadi pemimpin SI Semarang.  

 

Ia juga seorang sastrawan 

 Jamaknya aktivis pergerakan adalah berjiwa seni yang tinggi, nyaris tak

ada yang menyangkal. Marx seorang sastrawan sejati, demikian juga Marco. Selain

tulisan-tulisannya yang bergaris politik dan agitatif, ia sangat mencintai

sastra. Ia senang menulis syair dan cerita roman. Bahkan bersama-sama dengan H.

Mukhti dan Tirto Adhi Soeryo, Marco dianggap sebagai pelopor sastra modern

Indonesia. Dari buah tangan merekalah disemai sastra modern di negeri kita.  

Semua dan segala yang ditulisnya adalah potret dari seluruh

realitas bangsanya. Hampir seperti Tirto yang

meneguhkan dirinya sebagai wartawan-pengarang yang menjadikan tulisan sebagai

senjata perang terhadap segala bentuk kesewenangan. Lewat

tulisan serta sketsa-sketsa fiksinya ia mampu melukiskan dengan serba rinci

tentang struktur sosial dan kebudayaan kolonial pada masa itu, seperti yang

ditulisnya dalam Student Hidjo,

buah karya terkenalnya yang membedah proses nasionalisme yang baru tumbuh di

Hindia Belanda.  

Syair-syairnya

yang terkenal adalah Sama Rata Sama Rasa

dan Badjak Laoet, keduanya menyuarakan

kebenciannya pada kolonial, pada imperialis, yang ia gambarkan “menghisap

mereka sampai pingsan”.  

Lewat

sastra ia mengasah pena, sebagaimana lewat sastra pula ia belajar

tentang kesanggupan dan ketidaksanggupan manusia dalam berhadapan dengan

sejarahnya, sejarah kolonialisme yang liat untuk diruntuhkan.  

Marco

juga sangat menyukai pewayangan. Salah satu tokoh idolanya adalah Bima, ksatria

sejati, yang gagah berani membela kebenaran. Bahkan, Takashi menyebut bahwa

kunci untuk memahami Marco adalah pergerakan dan pengorbanan. Setelah ia keluar

masuk penjara tanpa sedikit jera dan menyesal. Semua itu adalah buah dari sikap

satrianya, yang berani menyuarakan apa yang dirasa benar dan bertindak sesuai

dengan kata-katanya. Marco mengatakan bahwa makna “hidup” hanya bisa

dipahami jika orang mengorbankan dirinya bagi “kita”.Ia tampil sebagai

“cermin” dan sebagai suatu pengorbanan bagi pergerakan rakyat.  

Marco, anak muda ciptaan kolonial itu, tintanya tak pernah

mengering. Karyanya, hidupnya, terus saja mengalir.  

Tak ada data tentang bagaimana kehidupan pribadinya. Ia tak terlalu

suka menulis biografi, atau menukilkan kisah hidupnya dalam cerita-cerita

fiksinya.Namun,dari perjalanan hidupnya, dari gaya ia menulis, agaknya faktor ‘kekalahan’ sebagai pribumi rendahan

seperti disebut di atas, cukup berperan kuat, ia sangat dendam dengan

kepriyayian. Ia dendam dengan feodalisme.  

Tahun

1917, terbit syairnya yang berjudul Sama

Rata Sama Rasa, yang menggambarkan tekat Marco untuk kembali ke dunia

pergerakan, yang sempat lama di tinggalkannya. Pergerakan yang lahir dengan

ekspansi Serikat Islam yang luar biasa, sekarang memasuki tahap baru. Masa

kolonial telah berakhir dan berganti dengan masa munculnya kaum bumiputra.

Setelah keluar dari penjara, Marco bergabung dengan SI Semarang dan duduk

sebagai komisaris. Ia tak kembali ke Surakarta sampai akhir 1924. Di masa

selanjutnya, pergerakan ternyata tumbuh kembali di Surakarta, kali ini bukan di

bawah panji-panji SI tetapi di bawah Insulinde yang dipimpin oleh H Misbach dan

Tjipto.  

  Pada masa awal pembentukan SI Surakarta, Marco memegang

peranan yang cukup penting.Ia bukanlah orang Surakarta, namun di kota inilah ia

memulai karier pergerakannya.Di kota inilah yang turut menyalakan obor penerang,

yang semula dipegang oleh Tirto dan H. Misbach. 

Pada

tahun 1924, setelah H. Misbach, seorang orator dan organisator ulung, tokoh yang

memproklamirkan Islam Komunis, dibuang ke Manokwari, Papua dan akhirnya

meninggal setelah diterjang penyakit malaria, Marco lah yang memegang kendali

organisasi. Dia memimpin SR dan PKI di Surakarta pada tahun 1925, sekaligus

tanpa daya menjadi saksi atas kehancurannya. Runtuhnya organisasi PKI yang

diawali dengan pemberontakan yang gagal di

tahun 1926.  

Gelombang radikalisme yang melanda rakyat-lah yang

membuat pergerakan murni menjadi milik rakyat sekaligus menguji para

pemimpinnya. Ketika kekuatan kiri

ditumpas habis-habisan pada tahun 1926, sebuah generasi baru intelektual yang

kesadaran nasionalisnya sudah terbentuk mulai awal 20-an muncul dan menjadi

kekuatan baru. Marco, satria sejati, yang tak pernah berlari ketika datang

kesulitan — ia selalu menyambutnya dengan kepala tegak– adalah salah satu

peletak dasarnya! (lhs) ****

Sumber    

 : Tabloid Pembebasan

Edisi IV/Tahun I

Kontributor : Dewan Redaksi Tabloid Pembebasan,  Januari 2004

 

 

Wiji Thukul - Aku Ingin Jadi Peluru

August 22nd, 2007 by ferdeeansyah

Wijithukulakuinginjadipeluru

Medium: Buku - Kumpulan Puisi
Penulis: Wiji Tukhul
Judul: Aku Ingin Jadi Peluru
Penerbit: IndonesiaTera, Magelang
Tahun: 2000
Tebal: 5 buku, 135 puisi

“Kalau hidupmu tidak mudah, keras, penuh tekanan, kejam dan
hampir-hampir kau tak tahu harus berbuat bagaimana, maka menulislah
puisi.”

“Kalau hidupmu terjepit, kau dikejar-kejar, kau bersembunyi, kau
berganti kaos, celana, sandal bahkan nama, sampai-sampai kau nyaris
alpa dirimu sendiri, maka menulislah puisi.”

“Puisi apa yang kau tulis?Apa pun itu, puisi akan melembutkan pikiranmu, setidaknya jemarimu sendiri.”

Di jaman seperti ini, masihkah relevan membaca Thukul? Tahun-tahun
ini tentu sudah jauh berbeda dibanding era Wiji Thukul. Sudah tidak ada
lagi sepatu lars menginjak di bawah meja. Orang boleh mencaci presiden,
wakil presiden, menteri, gubernur, bupati juga para DPRnya sendiri
tanpa perlu gentar. Orang punya puluhan partai politik untuk di pilih.
Konon, kita tidak perlu lagi punya rasa takut pada negara. Ya, itu
benar. Yang menjadi persoalan bukanlah apakah kita takut pada negara,
melainkan jika negara takut pada warganya sendiri. Itulah yang jauh
lebih mengerikan. Karenanya, meski era penghilangan orang macam Thukul
sudah dianggap berlalu namun masih ada kematian-kematian yang tak
perlu. Munir, misalnya. Ironisnya, Munis turut menulis essay tentang
Wiji Thukul sebagai pengantar buku kumpulan puisi Wiji Thukul, berjudul
Aku Ingin Jadi Peluru.

Masihkah relevan membaca Thukul? Soal relevansi, itu mudah dicari. Ada baiknya simak satu puisi Thukul ini:

Kucing, Ikan Asin Dan Aku

Seekor kucing kurus
menggondol ikan asin
laukku untuk siang ini
aku meloncat
kuraih
pisau
biar
kubacok ia
biar
mampus

ia tak lari
tapi mendongak
menatapku
tajam

mendadak
lunglai
tanganku
-aku melihat diriku sendiri!

lalu kami berbagi
kuberi ia kepalanya
(batal nyawa melayang)
aku hidup
ia hidup
kami sama-sama makan

Puisi tentang sesuatu yang sederhana dengan bahasa sederhana.

Ya, hidup Thukul tampaknya begitu keras. Ini tampak dari puisi-puisi
dalam buku ini. Buku kumpulan puisi yang diterbitkan oleh IndonesiaTera
berusaha merangkum semua puisi Thukul. Buku ini memuat dua kumpulan
puisi Thukul yang pernah terbit sebelumnya (oleh Taman Budaya
Surakarta), yaitu Puisi Pelo dan Darman Dan Lain-lain, yang menjadi dua sub bab tersendiri. Selain itu, juga memuat puisi-puisi yang belum terkompilasi, dan dijadikan dua sub bab, Lingkungan Kita Si Mulut Besar dan Ketika Rakyat Pergi. Sub bab terakhir berjudul Baju Loak Sobek Pundaknya
adalah kumpulan puisi Thukul semasa pelarian (setelah 1 Agustus 1996).
Dalam pelarian, Thukul menulis dengan nama samaran Budi Bang Branang.
Salah satu puisi masa pelariannya adalah Kucing, Ikan Asin Dan Aku di atas.

Nyanyian Akar Rumput

jalan raya dilebarkan
kami terusir
mendirikan kampung
digusur
kami pindah-pindah
menempel di tembok-tembok
dicabut
terbuang

kami rumput
butuh tanah
dengar!
Ayo gabung ke kami
Biar jadi mimpi buruk presiden!

Kalau banyak orang negara takut pada Thukul (dulu) itu bisa dimengerti. Membaca Thukul adalah membaca semangat perlawanan.

dalam keyakinan kami
di mana pun –tirani harus tumbang!
(Bunga Dan Tembok)

mari tidur
persiapkan
perlawanan, esok pagi!
(Untuk D)

aku berpikir tentang gerakan
tapi mana mungkin
kalau diam?
(Tentang Sebuah Gerakan)

Mengenang Widji Tukul

August 22nd, 2007 by ferdeeansyah

Wiji_thukulthumbnail

Padahal hari ini adalah peringatan hari kemerdekaan (yg katanya dah merdeka,nyatanya?). tetapi entah mengapa,
aku justru ingin mengenal kang Wiji Thukul, dengan caraku sendiri..
……..
………………………
Seumpama bunga, Kami adalah bunga yang tak kau kehendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun rumah dan merampas tanah
Seumpama bunga, Kami adalah bunga yang tak kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun jalan raya dan pagar besi
Seumpama bunga, Kami adalah bunga yang dirontokkan di bumi kami sendiri
Jika Kami bunga, Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu telah Kami sebar biji-biji
Suatu saat Kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan : Engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami, Dimanapun
TIRANI HARUS TUMBANG (Wiji Thukul, 1987)

Seorang sahabat, Wiji Thukul

Oleh Linda Christanty

15.34, Selasa, 23 Juni 1998

MARCEL tidak kembali juga. Dia seperti serpihan dari
pesawat luar angkasa yang meledak di ruang hampa,
lepas dari jangkauan grafitasi bumi. Hilang. Begitu
pula, Sadeli. Kata H, menurut Mulya Loebis, Sadeli
mungkin sudah dieksekusi. Jati dan Reza sudah kembali.
Nezar, Aan, dan Mugi bebas bersyarat. Kata beberapa
kawan, Marcel disembunyikan para pastor di Filipina.
Tapi, aku tidak percaya. Menurut kawan-kawan, dia
hilang di Tangerang (setelah bertemu A). Aku pernah
sekali melihat ibunya muncul di televisi. Sepasang
mata perempuan itu redup berair. Bagaimana ia bisa
memahat sepasang mata yang selalu bersinar dan
terus-terang pada wajah putranya? N sempat bercerita
tentang 103 mayat korban penembakan serta penganiayaan
yang mengambang di Kali Bekasi, beberapa waktu setelah
kasus penembakan 12 mahasiswa Trisakti. Berita ini
ditayangkan Horison. Apakah mereka berdua ada di
antara mayat-mayat itu?

Marcel adalah nama lain untuk Bimo Petrus Anugerah,
sedang Sadeli adalah nama alias untuk Herman
Hendrawan. Keduanya tercatat sebagai aktivis Partai
Rakyat Demokratik yang hilang di masa pemerintah
Soeharto. Catatan harian ini ditulis sebulan setelah
Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya sebagai
presiden dan meninggalkan sejarah kekerasan yang
panjang selama periode kekuasaannya. Setelah evakuasi
berkali-kali dalam keadaan yang tak menentu, juga
membakar berkas-berkas maupun dokumen demi menjaga
kerahasiaan gerakan waktu itu, ganjil rasanya
menemukan catatan semacam ini di tumpukan buku di masa
tenang.

Ada sebelas kawan saya yang diculik militer di masa
Soeharto. Empat orang tidak kembali dan seorang
ditemukan sudah menjadi mayat di jalanan. Tapi,
anehnya, catatan itu menunjukkan bahwa saya maupun
kawan lain tak pernah membicarakan Wiji Thukul sebagai
orang keempat. Kami tak menganggapnya sebagai kawan
yang mengalami penghilangan paksa, tak pernah menaruh
curiga ia turut menjadi korban. Saya -dan mungkin
banyak teman- mengira ia tengah bersembunyi di Solo
atau berada di suatu tempat, tapi situasi politik
waktu itu membuat kawan yang melindunginya
merahasiakan keber-adaannya dari yang lain. Ini juga
hal biasa dalam partai. Tak semua hal perlu diketahui
semua orang agar usia perjuangan bisa panjang.
Ternyata prasangka serupa terjadi pada istri Thukul,
Sipon. Saya mendengar Mbak Pon menyangka ada kawan
yang menyembunyikan suaminya dari kejaran militer.
Namun, setelah sekian lama Thukul tak ada,
masing-masing pihak mulai saling bertanya. Ternyata
Thukul memang tak disembunyikan pihak mana pun, Sipon
ataupun orang-orang PRD. Sejak itu pencarian Thukul
mulai dilakukan. Keluarga dan kawan-kawan Thukul
mendatangi lembaga bantuan hukum, mulai percaya bahwa
Thukul memang termasuk orang-orang yang hilang di masa
Soeharto. Pencarian ini terkesan sangat terlambat.
Thukul bahkan tak termasuk dalam daftar orang hilang
yang poster-posternya disebarkan Komisi Orang Hilang
dan Tindak Kekerasan, yang suatu kali pernah
terpampang di berbagai tembok kota dan rumah-rumah.

Siapakah Wiji Thukul ini? Mengapa ia hilang? Siapa
yang menghilangkannya?

Saya mendengar nama Thukul pertama kali pada 1994.
Ketika itu pembentukan Persatuan Rakyat Demokratik
baru saja selesai dan Wiji Thukul terpilih menjadi
ketua divisi budaya organisasi ini. Ada teman yang
menyarankan saya untuk bertemu Thukul. “Mungkin,
kalian bisa melakukan sesuatu lewat seni dan budaya,”
katanya. Ia juga menunjukkan sejumlah sajak Thukul
yang saya pikir menyalahi unsur-unsur estetika yang
saya pelajari di fakultas sastra. Sajak-sajak itu
tidak puitis dan pasti terkesan vulgar bagi banyak
mahasiswa di fakultas saya di masa Orde Baru. Bagi
mereka, sulit membayangkan keindahan dalam keadaan
yang kumuh dan miskin seperti kehidupan buruh, tukang
becak, atau masyarakat urban. Tak bakal ada keindahan
dalam got yang bau dan keringat yang mengucur deras,
yang bisa memicu kelahiran karya sastra. Kemiskinan
dan penderitaan hanya melahirkan lembaran pamflet,
bukan sajak atau puisi. Saya juga pernah punya
anggapan semacam itu, bahwa keindahan sejati hanya
terkandung dalam kisah-kisah cinta yang wangi.
Keindahan tak bisa beriringan dengan protes yang
mengandung kemarahan, tuntutan, dan kekecewaan,
seperti apa yang disebut Thukul puisi.

Teori-teori kesusastraan yang saya pelajari tak
berpihak pada sajak Thukul. Samuel Tylor Coloridge
(1772-1834), sastrawan di masa romantik telah menyebut
sajak sejenis karangan yang berlawanan dengan karya
sains, bersifat memberi kesenangan langsung. Padahal,
sajak Thukul lebih menimbulkan rasa gelisah ketimbang
kesenangan. Riffaterre, misalnya, mendefinisikan sajak
sebagai ‘mengatakan sesuatu tapi artinya lain’.
Definisi ini tak cocok dengan sajak Thukul yang lugas,
terang, dan tak suka main sembunyi-sembunyi itu.

Sajak dalam buku-buku teori sastra disyaratkan
memiliki ciri tertentu, antara lain berbentuk monolog
aku-lirik dan bermakna konotatif. Sajak harus
mengandung metafora, simile, atau alegori. Pendeknya,
untuk memahami sebuah sajak, tidak gampang.
Teori-teori tersebut tidak tepat untuk sajak-sajak
Thukul. Sajak-sajaknya tak pernah bermain kiasan atau
perbandingan yang rumit.

Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diam
aku siapkan untukmu: pemberontakan!

Dalam bait Sajak Suara itu Thukul menyuarakan rasa
ketertindasan rakyat kecil di masa Soeharto, yang
dirinya pun menjadi bagian dari mereka. Seni bagi
Thukul adalah seni yang terlibat, menyatu dalam
dinamika masyarakatnya, bukan kumpulan imajinasi
belaka.

Pada tahun itu juga saya berangkat ke Solo dan menemui
Thukul di Kampung Kalangan bersama Raharja Waluya
Jati, kawan aktivis di Yogyakarta. Kami memasuki
pemukiman kumuh di tengah kota, yang dihuni para buruh
pabrik, tukang becak, kuli rendahan, dan orang-orang
yang paling tak diperhitungkan pendapatnya dalam
sebuah pemerintahan otoriter. Di tengah kampung inilah
sajak-sajak Thukul lahir. Thukul tak hanya menyuarakan
kesengsaraan mereka, tapi juga membangkitkan semangat
untuk melawan ketidakadilan itu. Sajak-sajaknya bukan
semata-mata hardikan pada kekuasaan, tapi juga jalan
keluar bagi orang yang ditindas, jalan yang tak
disukai penguasa, jalan melawan.

Kami melihat anak-anak kecil bertelanjang kaki
berlarian di bawah terik matahari, menghirup hawa
busuk yang menguap dari limbah industri. Kami berhenti
di muka sebuah rumah sewaan dan seorang pria kurus
berkaos oblong putih merek Swan menyambut di ambang
pintu. Betapa ringkihnya orang ini, pikir saya, tak
sepadan dengan keberanian sajak-sajaknya. Bicaranya
pelat dan derai tawa terdengar di ujung
kalimat-kalimatnya. Thukul tinggal dengan seorang
istri dan dua anak yang masih balita, Nganti Wani dan
Fajar Merah. Dia menyuguhkan singkong rebus pada
tamunya.

Kehidupannya miskin. Rumah itu berlantai tanah. Di
ruang muka membentang sehelai plastik biru bahan tenda
pedagang kaki lima yang berfungsi sebagai alas duduk.
Sebuah mesin jahit berada di tengah ruangan tersebut,
alat pencari nafkah si penghuni rumah. Kamar mandi
berbau tak sedap terletak di luar, tanpa kran air
ledeng.

Tapi, Thukul punya sebuah ruang istimewa;
perpustakaan. Ini satu-satunya kemewahan. Di sana ada
buku Antonio Gramsci, Bertolt Brecht, Raymond
Williams, Marx,�. Kebanyakan buku berbahasa Inggris.
Beberapa anak kampung tengah bertandang ke rumah
Thukul ketika kami datang. Mereka belajar menggambar
dengan teknik cukil kayu. Saya masih ingat salah
seorang yang ramah dan suka bertanya. Namanya,
Trontong. Nganti Wani kelihatan paling kecil, menyela
di antara mereka.

Anak-anak tersebut tergabung dalam Sanggar Suka
Banjir. Mereka belajar menggambar, mengarang, membaca,
dan bermain teater di situ. Thukul mengajarkan apa
yang tak mereka peroleh di sekolah, yaitu
mengekspresikan dengan jujur perasaan serta pengalaman
sehari-hari mereka. Semua karya bertumpu pada hal-hal
nyata. Bahkan, suatu hari sanggar ini mementaskan
lakon tentang banjir dan di akhir pertunjukannya
pemain serta penonton beramai-ramai mengunjungi rumah
lurah untuk mengadukan tanggul yang jebol. Melalui
permainan, Thukul telah menanamkan rasa percaya diri
pada anak-anak kampung agar tak gentar menyatakan
kebenaran. Dalam keterbatasan selalu ada jalan.
Kelompok teater dari luar Indonesia juga pernah
berkunjung ke Sanggar Suka Banjir dan membagi
pengetahuan baru untuk anak-anak tersebut. Kampung
Kalangan yang sempit seakan berubah luas, memberi
anak-anak miskin itu kegembiraan.

Thukul juga melatih buruh-buruh pabrik bermain teater.
Konsep sebuah teater buruh di Afrika Selatan
mengilhaminya. Buruh-buruh memerankan pengusaha,
satpam, mandor, supervisor, dan diri mereka sendiri.
Buruh yang memerankan majikan berdebat dengan buruh
yang memerankan dirinya. Mereka belajar bernegosisasi
lewat teater. Selama ini para buruh merasa tak punya
kemampuan menjelaskan tuntutan mereka di hadapan
pengusaha atau pihak departemen tenaga kerja yang
mereka sebut ‘orang-orang pintar’ itu. Kalimat-kalimat
mereka selalu dipatahkan dengan kelihaian pengusaha
berargumentasi. Tuntutan-tuntutan kesejahteraan mereka
tak dipenuhi. Thukul melatih buruh-buruh berbicara,
membangkitkan rasa percaya diri mereka untuk
berhadapan langsung dengan pemilik modal yang
menentukan upah mereka dalam kehidupan nyata. Latihan
ini semacam simulasi. Meski pengusaha punya pembela
hukum, buruh-buruh tak perlu gentar. Dengan bersatu,
kekuatan mereka akan lebih besar dan didengar. Thukul
melakukan pengorganisasian buruh dengan cara ini untuk
PRD, mengajak para buruh berjuang untuk memperoleh
hak-haknya.

Pada Agustus 1994, setelah beberapa kali bertemu, kami
sepakat membangun Jaringan Kerja Kesenian Rakyat dan
sepakat berpihak pada rakyat tertindas dalam
karya-karya kami. Bentuk jaringan dipilih berdasarkan
kondisi dunia kesenian saat itu, yang para pekerjanya
jauh dari pengalaman berorganisasi dan sukar
berdisiplin, menganggap organisasi identik dengan
pe-nyeragaman yang bisa mematikan kebebasan berkreasi
mereka. Orang tak punya referensi tentang organisasi
kesenian yang modern, selain paguyuban. Setidaknya,
bentuk jaringan ini tak membuat mereka merasa
dikekang.

Pengetahuan berorganisasi memang telah dihancurkan
sejak peristiwa 1965. Pemerintah Soeharto membubarkan
puluhan partai maupun organ sektoralnya menjadi tiga
partai yang telah mereka tentukan, yaitu Partai
Persatuan Pembangunan, Partai Demokrasi Indonesia, dan
Golongan Karya. Orde Baru tak memberi kebebasan pada
rakyat untuk mendirikan organisasi dan berbeda
pendapat. Rakyat yang terorganisasi bisa mempunyai
kekuatan untuk mengancam kekuasaan, punya posisi tawar
yang besar. Negara menciptakan organisasi untuk
mengontrol rakyat, menciptakan ketakutan bahwa dengan
tak masuk partai Golongan Karya atau Serikat Pekerja
Seluruh Indonesia, misalnya, nasib seseorang bisa
buruk. Zaman itu tak banyak seniman yang berani
berseberangan dengan pemerintah Orde Baru. Wiji Thukul
tergolong mereka yang langka itu.

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri
Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami
Di manapun tirani harus tumbang!

Thukul menggunakan kiasan ‘tembok’ untuk penguasa, dan
‘bunga’ untuk rakyat yang dirampas tanah dan rumahnya
dalam sajak Bunga dan Tembok tadi. Sikapnya terhadap
tirani jelas tergambar dalam sajak: harus tumbang!

Thukul sudah dianggap menentang pemerintah jauh
sebelum ia terlibat dalam partai. Baginya perlawanan
terhadap ketidakadilan adalah naluri. Ia mempraktikkan
sikap ini pertama-tama pada lingkungan terdekatnya.
Thukul mengajak warga kampung beramai-ramai memprotes
keberadaan limbah pabrik bumbu masak yang menyebarkan
bau busuk. Akibatnya, ia harus berhadapan dengan
aparat setempat. Sajaknya tak hanya bernada
perlawanan, tapi juga mengajak orang untuk bersatu
melawan, mulai dari melawan pemilik pabrik sampai
pemerintah, mulai dari menentang tentara rendahan
sampai jenderal.

Pada 1989, Badan Koordinasi Intelijen Negara,
menelepon Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta
lantaran lembaga ini dianggap merekomendasikan
aktivitas berkesenian Thukul. “Kata BAKIN, Wiji Thukul
itu ‘kan orang yang mau mendongkel negara kita,” ujar
Jaap Erkelens dari Koninklijk Instituut Voor Taal,
Land en Volkenkunde, yang juga teman baik Thukul,
mengulang cerita orang lembaga tersebut.

“Thukul juga sudah langganan ditangkap dan disiksa
Koramil setempat,” kata Erkelens. Bahkan, pada masa
itu, Thukul sempat ditahan Koramil di Solo gara-gara
menerima paket buku dari Belanda. Pihak kantor pos
yang bekerja sama dengan militer telah melaporkan soal
kiriman tersebut.

“Sajak-sajak Thukul itu berisi protes sosial, yang
dalam hal ini terbentur pada politisi,” kata Erkelens,
lagi.

Di dalam negeri Thukul dimusuhi, tapi sajak-sajak
tersebut membuat Thukul memperoleh penghargaan
Wertheim Encourage Award yang pertama pada 1991
bersama penyair WS Rendra. Penghargaan ini dibuat
sebagai penghormatan pada sosiolog Belanda Willem
Frederik Wertheim, yang anti-kolonialisme dan tak suka
pada prilaku pemerintah Soeharto. Ketika Inter
Governmental Group on Indonesia (sekarang Consultative
Group on Indonesia), sebuah lembaga donor yang
diprakarsai pemerintah Belanda berdiri pada 1967,
Wertheim menulis artikel berjudul “Tuan Sudah
Kembali”, memperingatkan orang akan bentuk
kolonialisme baru yang lebih maju dan tersembunyi.

Untuk mempopulerkan Jaringan Kerja Kesenian Rakyat,
masih pada 1994, organisasi ini mendukung pameran
pelukis Moelyono di Yogyakarta. Pameran Moelyono
bertema kehidupan nelayan. Kartu-kartu pos yang
dilukis anak-anak nelayan turut dipamerkan.
Kartu-kartu tersebut menunjukkan sikap aparat atau
rentenir yang terjadi di sekeliling mereka, juga
intimidasi dan ketidakadilan yang berlangsung
sehari-hari. Bila Thukul hidup dengan anak-anak kaum
miskin di perkotaan, Moelyono dekat dengan anak-anak
nelayan di wilayah pantai Tulung Agung, Jawa Timur.

Pada tahun ini juga, aksi petani terjadi di Ngawi,
Jawa Timur. Thukul yang memimpin massa dan melakukan
orasi ditangkap serta dipukuli militer.

Dalam aksi-aksi massa semacam inilah, sajak-sajak
Thukul sering dibacakan. Aksi yang terkadang memakan
waktu berjam-jam dan tak jarang di tengah terik
matahari membuat pembacaan sajak menjadi hiburan,
selain memberi semangat dan ketidakgentaran menghadapi
militer yang selalu menghadang tiap aksi protes.

Ada tiga sajak Thukul yang populer dan menjadi sajak
wajib dalam aksi-aksi massa, yaitu Peringatan, Sajak
Suara, dan Bunga dan Tembok (ketiganya ada dalam
antologi Mencari Tanah Lapang yang diterbitkan oleh
Manus Amici, Belanda, pada 1994. Tapi, sesungguhnya
antologi tersebut diterbitkan oleh kerjasama KITLV dan
penerbit Hasta Mitra, Jakarta. Nama penerbit fiktif
Manus Amici digunakan untuk menghindar dari pelarangan
pemerintah Orde Baru).

Peringatan
Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa
Kalau rakyat bersembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar
Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!

1994 merupakan tahun yang ramai bagi situasi nasional.
Tiga media massa, Tempo, Detik, dan Editor dibredel.
Aksi protes berlangsung di Jakarta dan berbagai kota.
Para jurnalis turun ke jalan bersama mahasiswa dan
organisasi pro demokrasi seperti Pijar, SMID, Formaci,
Aldera, dan sebagainya. Akhirnya, tak semua rencana
bisa berjalan mulus untuk kesenian dan Jaringan.
Seiring situasi politik Indonesia yang makin represif
di masa Soeharto, PRD berkonsentrasi pada
peng-organisasian kaum buruh dan mendukung perjuangan
rakyat Timor Timur untuk merebut kemerdekaannya. Pada
Mei 1995, Pusat Perjuangan Buruh Indonesia, onderbouw
partai, melakukan aksi mogok bersama sekitar 5000
buruh PT Great River di gedung DPR RI, Jakarta,
disusul aksi lompat pagar kedutaan beberapa negara